Sejarah
Asal Usul Sejarah Suku Karen Thailand dan Fakta Menariknya
Tidak hanya dikenal sebagai Negeri Putih Gajah, Thailand juga menyimpan sejarah Suku Karen yang memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, ras tersebut sering dikaitkan dengan gambaran perempuan yang mengenakan tumpukan kalung kuningan.
Hal inilah yang menjadikan leher ras tersebut terlihat panjang dan terlihat unik. Untuk mengetahui asal usul dan sejumlah fakta menarik dari ras tersebut, Anda bisa menyimak ulasan di artikel berikut.
Asal Usul Sejarah Suku Karen yang Terdapat di Thailand
Suku Karen, umumnya dikenal sebagai kelompok masyarakat yang hidup di wilayah selatan Myanmar. Dalam kesehariannya, kelompok tersebut menggunakan rumpun bahasa Sino-Tibet untuk berkomunikasi dengan satu maupun orang lain.
Terkait sejarah Suku Karen sendiri, umumnya dimulai ketika ras tersebut menghuni Myanmar sekitar 2 ribu tahun lalu. Bahkan, sebagiannya lagi ada juga yang ikut bermigrasi ke Thailand.
Adapun kelompok ras ini juga dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Karen Merah dan Putih. Dari keduanya, banyak orang menemukan tradisi unik berupa memanjangkan leher dengan menggunakan cincin besar berbahan kuningan.
Apabila usianya kian bertambah, biasanya cincin di leher tersebut juga akan ditambahkan lagi. Meskipun memiliki tradisi memanjangkan leher, namun dikatakan bahwa tidak semua perempuan ras ini menerapkannya.
Tujuan Utama yang Melatarbelakangi Masyarakat Memutuskan Memanjangkan Leher
Tidak banyak orang tahu, bahwa memanjangkan leher menggunakan kalung kuningan umumnya dimulai bagi perempuan berusia 5 atau 6 tahun. Dengan menggunakan kalung ini, maka posisi tulang selangka dan rusuk menurun.
Sehingga, posisi tersebut akan menjadikan bagian leher tampak lebih panjang. Meskipun belum diketahui secara pasti, namun banyak teori mengklaim bahwa tradisi sejarah Suku Karen bertujuan untuk hal-hal berikut.
- Melindungi bagian leher dari serangan gigitan hewan buas seperti singa dan macan
- Meminimalisir risiko terjadinya penculikan dari pria ras lain
- Dijadikan sebagai salah satu standar kecantikan kelompok tersebut
- Bentuk mempertahankan tradisi dan menjadi bagian identitas serta budaya di dalamnya
Tradisi dan Agama yang Dianut Masyarakat Leher Panjang
Anda perlu tahu, bahwa ras di Thailand ini sendiri umumnya menganut sistem kepercayaan animisme. Diketahui, kepercayaan ini juga hidup berdampingan dengan agama Buddha yang banyak dipeluk sebagian besar masyarakatnya.
Di dalamnya, peran biksu tidak hanya sebagai pemimpin agama saja. Akan tetapi, juga memiliki peranan penting sebagai tokoh masyarakat, aktivitas HAM, ahli pengobatan herbal dan guru.
Namun pada masa penjajahan Inggris, banyak dari masyarakat tersebut dekat dengan misionaris Kristen. Karena itulah, sejarah Suku Karen akhirnya melepaskan kepercayaan tradisionalnya dari animisme menjadi Kristen.
Sementara mata pencaharian masyarakatnya, yaitu bertani dengan bertempat tinggal di desa, tepatnya wilayah perbukitan. Adapun tradisi paling unik dari ras ini, yaitu memanjangkan leher yang digadang-gadang sebagai tolak ukur kecantikan.
Fakta-fakta Menarik Terkait Ras Leher Panjang di Thailand
Berkaitan dengan sejarah Suku Karen, tradisi memanjangkan leher rupanya menyimpan sejumlah fakta menarik di dalamnya. Adapun sejumlah fakta menarik seputar tradisi memanjangkan leher di Thailand tersebut, antara lain sebagai berikut.
1. Memiliki Banyak Etnis Grup
Salah satu fakta menarik seputar ras masyarakat ini, yaitu memiliki banyak etnis grup di dalamnya. Diketahui, setiap etnis grup ini bahkan dibedakan menjadi subetnis lagi dengan keanekaragaman yang berbeda-beda.
Meski demikian, etnis grup paling dominan di kelompok ini antara lain berupa Sgaw (Karen Putih), Pwo, Pa-O sampai dengan Kayah. Sementara kalangan wanita di kelompok ini, menjadi bagian subetnis Kayah.
2. Perbedaan Pakaian Bagi Perempuan yang Belum dan Sudah Menikah
Selanjutnya, Anda dapat menemukan fakta sejarah Suku Karen menarik lainnya dari kelompok masyarakat ini berupa pakaian yang dikenakannya. Dimana untuk perempuan yang belum dan sudah menikah memiliki perbedaan cukup mencolok.
Pada perempuan yang belum menikah, biasanya mengenakan baju polos panjang putih bernama chay kwa. Sedangkan bagi perempuan sudah menikah, akan mengenakan baju dengan corak khas warna gelap bernama chay mo.
3. Sangat Ahli dalam Membuat Perhiasan
Fakta lainnya seputar ras kelompok ini, yaitu dikatakan sangat ahli dalam membuat perhiasan. Khususnya, yaitu pembuatan perhiasan perak yang memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri di mata orang lain.
Bahkan, tidak sedikit para pembuat perhiasan turut menjalin kerja sama dengan ras kelompok Karen tersebut. Yang kemudian, perhiasan inilah dijual melakukan situs-situs pasar online tertentu.
4. Terkenal Sebagai Pelatih Gajah
Adapun hal menarik lain yang bisa Anda lihat dari ras ini, yaitu terkenal sebagai pelatih gajah. Bahkan dikatakan, jika kemampuannya dalam melatih gajah satu ini sudah ada sejak zaman dahulu.
Menariknya lagi, seseorang juga bisa belajar langsung dari kelompok masyarakat tersebut dalam melatih gajah. Dimana, nantinya tinggal mendatangi saja Karen Tribe Native Elephants yang ada di Chiang Mai, Thailand.
Kepopuleran ras Karen, tidak terlepas dari tradisi memanjangkan leher yang unik. Terlebih dengan fakta dan sejarah Suku Karen yang dimiliki, tidak jarang menjadikan banyak orang ingin melihat langsung ras tersebut.